Tags

Anak Nonton

Dalam pengamatan saya belakangan ini media massa cetak maupun elektronik berlomba dalam menayangkan adegan kekerasan, baik dalam bentuk pemberitaan kasus kriminalitas seperti kebanyakan tayangan di banyak stasiun televisi kita maupun film bahkan kartun untuk anak-anak.

Ketika saya mengamati surat kabar lokal saya pun tidak sengaja menemukan foto korban dengan kondisi berlumuran darah, hal ini seharusnya tidak dicantumkan dalam berita. Hal ini dapat memberikan berbagai macam efek kepada pembaca yang melihat foto tersebut. Sebaiknya dalam menampilkan foto korban, foto yang dimuat dalam berita haruslah disensor terlebih dahulu sebelum diterbitkan.

Pemaparan kekerasan pada media massa memiliki kaitan terhadap peningkatan perilaku agresif pada pemirsa atau pembacanya. Manusia merupakan makhluk yang memiliki sifat peniru dan banyak perilaku manusia terbentuk oleh proses peniruan. Perilaku ini terutama sangat menonjol pada usia anak-anak dan remaja, sehingga media massa yang banyak sekali menawarkan contoh untuk ditiru atau dijadikan obyek identifikasi bagi mereka. Tak hanya itu saja karena tayangan kriminalitas juga mempengaruhi realitas kriminalitas itu sendiri.

Pemberitaan kekerasan pada televisi dan media cetak memberikan efek bagi penontonnya, dan jenis efeknya sesuai dengan contoh yang mereka lihat. Makin mirip situasi dalam televisi atau media cetak dengan situasi kehidupan sebenarnya, maka makin tinggi efek televisi pada perilaku mereka. Kemungkinan terjadinya efek akan lebih besar bila penyajian kekerasan itu dianggap sebagai hal yang sudah sepatutnya sebagai contoh pemberitaan polisis yang menembak penjahat. Mereka akan menganggap penembakan merupakan hal yang sudah biasa terjadi.

Pertama pembaca atau penonton mempelajari cara bekerja setelah melihat contoh.Selanjutnya, kemampuan penonton untuk mengendalikan dirinya berkurang. Akhirnya, mereka tidak lagi tersentuh oleh orang yang menjadi korban dan menganggap hal tersebut sudah biasa. Contohnya ketika seorang selalu disuguhkan berita-berita pembunuhan maka ia akan menganggap korban pembunuhan bukan merupakan hal yang luar biasa. Mereka menganggap hal itu sudah biasa, mereka tidak tersentuh dan merasa iba ketika melihatnya dalam pemberitaan. Jika hal ini sudah terjadi maka ia berkemungkinan untuk melakukan hal yang diberitakan.

Beberapa kasus di Amerika Serikat seperti seseorang anak yang menembak Presiden Ronald Reagan, kemudian seorang pelajar SMA berusia 18 tahun yang membunuh empat wanita dan anak-anak di sebuah salon, merupakan salah satu bukti efek pemberitaan di media massa yang tidak lama kemudian diikuti oleh para pelaku tindak kekerasan.

Kemudian mari kita lihat dan flashback ketika pemberitaan eksekusi Amrozi Cs yg jelas-jelas dikatakan bersalah mengakibatkan ia di puja-puja bagai pahlawan menang perang bagi sebgian orang yang kemudian akan mengancam akan melakukan teror bom jika Amrozi Cs dieksekusi mati, lalu kasus mutilasi yang dilakukan Ryan Jombang yang akhirnya menjadi inspirasi atas kasus mutilasi di bus mayasari bakti setelah pemberitaan yang berlebihan terhadap kasus Ryan.

Sebenarnya kesalahan bukan pada pemberitaan peristiwanya namun cara mengemasnya yang mestinya harus ditinjau lebih baik lagi.Tak cukup dengan hanya sekedar mengaburkan wajah pelaku maupun korban. Sebaiknya hal ini dapat diminimalisir dengan menghentikan tayangan rekontruksi yang berpotensi besar akan ditiru.Selain itu, jangan lagi mengekspos keluarga pelaku dan hanya fokus pada kejahatannya saja secara proporsional.