Tags

,

Plagiarisme

Plagiarisme

Dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng, belakangan ini banyak terjadi kasus-kasus plagiarisme. Tradisi  plagiarisme bahkan tidak hanya di kalangan pelajar atau mahasiswa, para guru atau dosen bahkan terjebak kedalam plagiarisme.

Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.

Sementara itu dikenal pula isitilah ghost writer, ghost writer merupakan profesi penulis yang menulis untuk dan atas nama orang lain. Orang-orang terkenal yang super sibuk menjadi klien para ghost writer ini.

Profesi ini mungkin tidak terlalu diekspos di Indonesia. Padahal ada begitu banyak orang yang menjadi ghost writer. Terutama di kalangan akademik. Biro-biro penulisan dan bimbingan skripsi contohnya.

Kasus terakhir yang baru saja terjadi dilakukan Prof Dr Anak Agung Banyu Perwita, Guru Besar FISIP Universitas Parahyangan (Unpar). Akibat kasus plagiat yang dia lakukan, Banyu diberhentikan dengan tidak hormat. Plagiat terjadi akibat kesengajaan dan ketidaksengajaan, tidak ingin direpotkan, serta kurangnya kemampuan para dosen untuk membuat suatu karya ilmiah.

Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

Pendidikan di Indonesia mulai perlu menanamkan nilai-nilai kejujuran atau sportivitas kepada anak didik agar di kemudian hari tidak sampai terjebak pada perangai plagiarisme.

Plagiarisme sendiri merupakan tindakan sangat tercela dan sangat memalukan karena pelakunya seperti menjadi pencuri karena mencuri ide, hasil pemikiran atau hasil penelitian orang lain.

Beberapa contoh plagiarisme adalah menjiplak skripsi milik orang lain dan mencuri design milik orang lain lalu mengklaim sebagai hasil karya sendiri. Selain itu, tindakan plagirisme yang lebih halus namun sering dilakukan adalah mengungkapkan pendapat atau pandangan milik orang lain tanpa menyebutkan nama orang tersebut.

Suatu masyarakat tidak akan bisa berkembang jika plagiarisme tidak diberantas. Tanpa adanya keadilan dan penghargaan yang semestinya kepada figur-figur yang berprestasi, amatlah sulit tercapai kemajuan baik dalam segi sosial, moral, maupun teknologi.

Orang-orang cerdik pandai akan mencari masyarakat lain yang bisa memberi penghargaan yang adil. Ini yang menyebabkan banyak dari mereka pindah ke negara maju.

Plagiarisme marak terjadi karena kurangnya pengertian jika tindakan ini salah. Sering orang tidak sadar jika dia melakukan hal ini. Misalnya banyak orang yang berkata-kata seakan-akan itu adalah hasil pemikirannya, padahal sebenarnya karena dia mencontek tulisan orang lain. Lain halnya jika dia mampu mengembangkan pemikiran baru yang itupun masih perlu menyebutkan orang lain yang menjadi nara sumbernya.

Pemahaman buruknya plagiarisme harus ditanamkan sejak dini. Di negara maju umumnya anak-anak sejak kecil diajarkan untuk tidak menjiplak. Setiap anak dimotivasi untuk menghasilkan karya sesuai kreativitas masing-masing. Meniru karya orang lain sebaik apapun dinilai rendah. Dengan ini, setiap anak akan terpacu untuk menampilkan hasil pemikiran sendiri.

Di samping itu juga menghargai hasil karya milik temannya. Di Indonesia, hal ini masih jarang. Walaupun mencontek tidak dibenarkan namun pemahaman pentingnya mengakui hasil karya orang lain masih minim.

Hal ini berakibat banyak orang yang merasa dia menghasilkan karya sendiri namun tidak menyebutkan nara sumber yang berperan penting baginya.

Plagiarisme selama ini susah dideteksi, sebab hanya diketahui oleh penulis yang bersangkutan atau saksi korban plagiarisme. Namun hal itu terjadi seandainya saksi korban tahu dan melaporkan karya itu.

Kejujuran akademik harus benar-benar dijaga untuk menegakkan integritas seorang intelektual. Dalam  lingkungan  akademis, isu plagiarisme sangat krusial sebab  kejujuran ilmiah ini adalah pilar utama dan plagiarisme adalah aib yang harus dihindarkan. Sikap disiplin, sadar diri, dan bangga terhadap hasil karya sendiri harus diterapkan kepada seluruh pihak.

Sebenarnya di Indonesia terdapat Undang-Undang Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang menjadi rambu bagi seseorang dalam mempergunakan hasil karya atau intelektual orang lain, termasuk karya ilmiah. Namun, sebagian masyarakat Indonesia masih belum sadar atas hal itu. Akibatnya, lebih menyukai mencari jalan pintas untuk membuat karya ilmiah.

Kemungkinan, hal itu disebabkan belum adanya batasan-batasan yang jelas mengenai plagiat. Misalkan saja, apakah mengutip satu kalimat tanpa menyebutkan sumber juga dikatakan plagiat. Selain itu, sistem di Indonesia juga memungkinkan terjadinya plagiarisme. Sebab,di Indonesia belum ada database khusus karya ilmiah yang dihasilkan di Indonesia.

Di samping itu,sanksi sosial kepada oknum plagiator juga relatif minim. Sebagian masyarakat relatif menjadikan persoalan ini sebagai pelanggaran kecil. Karena itu, ketika ada oknum plagiator yang ketahuan melakukan plagiarisme tidak terlalu diperbincangkan.

Negara-negara maju, seperti Belanda telah mengadopsi `software` khusus untuk mendeteksi plagiarisme, dan unsur plagiarisme ditoleransi maksimal 10 persen, lebih dari itu secara otomatis karya akan tertolak.

Penerapan sanksi, kata dia, sebenarnya juga cukup ampuh untuk mencegah plagiarisme, misalnya sanksi yang diberikan kepada dosen atau pengajar yang melakukan plagiarisme, tentunya tergantung kadar plagiarisme yang dilakukan.

Selain iti guna mencegah plagiarisme, perguruan tinggi harus selalu memperhatikan mekanisme pengecekan tugas-tugas karya ilmiah yang dihasilkan mahasiswa maupun dosen. Jika  mekanisme dijalankan dengan baik dan benar, hal itu dapat mengurangi kasus plagiarisme.