Pariwisata Indonesia

Pariwisata Indonesia

Sektor Pariwisata merupakan salah satu sektor yang diandalkan Indonesia selama masa krisis ekonomi untuk menghasilkan devisa, Knsis ekonomi mengakibatkan penurunan kinerja pada berbagai sektor termasuk pariwisata. Faktor ekstemal lain yang turut berpengaruh pada pariwisata adalah situasi keamanan yang tidak menentu serta gejolak politik di Indonesia. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mengalami penurunan akibat peristiwa-peristiwa tersebut.

Hasil identifikasi menunjukkan penurunan jumlah kunjungan wisman sebanyak 570 ribu di tahun 1998 dengan tingkat pertumbuhan minus 11 persen, dan mengakibatkan posisi Indonesia turun tiga peringkat dan tahun 1995, menjadi peringkat ke-28 negara tujuan wisata di dunia. Perubahan yang terjadi pada pasar utama panwisata Indonesia adalah kenaikan wisman asal ASEAN sebesar 5 persen dan penurunan wisman asal Asia Pasifik sebesar 19 persen. Berdasarkan pekerjaan, wisman dengan pekerjaan buruh meningkat 5 persen, wisman yang berpekerjaan profesional dan pengusaha turun sebesar 15 persen.

Berdasarkan pola kunjungan, wisman yang bertujuan bisnis turun sebanyak 1,6 juta (-34%), wisman yang bertujuan berlibur turun sebanyak 280 ribu (-0,8%). Wisman yang menggunakan angkutan udara turun 25 persen, pengguna angkutan laut meningkat 10,5 persen. Wisinan yang menginap di hotel bintang meningkat 19 persen, sedangkan yang menginap di hotel non bintang turun 6,6 persen. Rata-rata lama tinggal wisman selama masa krisis ekonomi tidak mencapai 10 hari, dimana sebelumnya rata-rata di atas 10 hari. Rata-rata penge/uaran wisman per kunjungan turun sebesar 26 persen. Penenmaan devisa panwisata selama masa krisis ekonomi tidak pernah meningkat dengan penurunan 31 persen selama tiga tahun.

Rekomendasi yang disarankan dalam meningkatkan kembali kinerja panwisata Indonesia adalah pada masalah keamanan, yaitu meyakinkan ke seluruh pihak bahwa faktor keamanan merupakan syarat mutlak bagi sektor panwisata untuk menarik wisatawan mancanegara. Rekomendasi Iainnya berupa penyederhanaan birokrasi untuk mengembalikan citra pariwisata Indonesia serta promosi dan informasi yang lebih aktif untuk memperivas pasar panwisata terutama negara-negara dari kawasan Eropa Timur, Afrika dan Amenka Selatan.

Bom Buku

Bom Buku

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menyatakan bahwa bom buku yang belakangan ini marak berpotensi mencoreng citra keamanan dan berdampak pada pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia. Bom-bom ini walaupun skalanya sangat kecil tapi berpotensi menganggu citra Indonesia dari segi keamanan. Beberapa tahun lalu, Indonesia sempat dikenal sebagai negara sarang teroris tetapi pemerintah telah cukup berhasil menghapus citra itu. Namun sayangnya tahun ini potensi citra negatif itu riskan muncul kembali.

Dinamika perkembangan kepariwisataan di Indonesia mengalami pasang surut. Serangkaian aksi terorisme yang melanda diberbagai kawasan Indonesia seperti bom Bali I, II, bom Marriot dan separatisme yang melanda diberbagai daerah seperti di Poso, Maluku, Aceh dan Papua membawa dampak pada promosi pariwisata di Indonesia. Apalagi bulan Maret 2011 ini banyak sekali aksi teror bom yang muncul dengan berbagai motif di belakangnya.

Maraknya pengiriman bom buku yang saat ini meresahkan masyarakat. Muncul modus operandi baru pengiriman bom melalui buku, ini kemungkinan membuat citra negara Indonesia buruk kembali di mata Internasional. Hampir 65 % turis dan wisatawan yang datang ke Indonesia sensitif terhadap isu keamanan.

Walaupun teror bom tersebut maraknya masih di daerah Jakarta namun hal ini berpotensi menyebar ke daerah lain, terutama Bali yang kita tau merupakan salah satu tujuan pelancong dunia.

Terkait kasus-kasus bernuansa SARA yang disebutkan diatas sedikit banyak mempengaruhi pariwisata di Indonesia karena tujuan atau destimasi obyek wisata menjadi lebih terbatas. Para wisatawan mancanegara akan cenderung membatalkan rencana kedatangan mereka ke daerah konflik termasuk daerah di sekitarnya