Wisatawan Domestik

Wisatawan Domestik

Pariwisata adalah salah satu alat negara dalam menghasilkan devisa atau keuntungan untuk negara. Setiap negara pasti memiliki keinginan untuk menjadikan negaranya sebagai tempat kunjungan wisata favorit baik untuk wisata mancanegara atau wisata dalam negeri. Indonesia memiliki keindahan dan potensi pariwisata yang cukup besar. Pantai, kebudayaan daerah, wisata kuliner, dan masih banyak tempat wisata yang ada di Indonesia yang siap untuk dieksplorasi, tapi sayangnya hal itu kontradiksi dengan jumlah kunjungan wisatawan baik wisatawan mancanegara dan wisata dari dalam negeri sendiri.

Menurunnya kunjungan wisata di Indonesia tak lepas diakibatkan oleh kurangnya perhatian masyarakat terhadap daerah wisata yang dimiliki oleh Indonesia itu sendiri. Masyarakat Indonesia lebih menyukai berwisata ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia untuk belibur.

Singapore Tourism Board (STB), Kamis (10/2), mengumumkan jumlah kunjungan wisatawan ke Singapura yang mengalami peningkatan sekitar 20 persen, dari 9,7 juta tahun 2009 menjadi 11,6 juta orang tahun 2010. Menariknya, dari jumlah itu, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asal Indonesia meningkat besar sekitar 32 persen dari 1.745.000 orang pada 2009 menjadi 2.305.000 orang pada tahun 2010. Jumlah itu mengukuhkan Indonesia menjadi penyumbang wisatawan nomor 1 terbanyak ke Singapura, mengalahkan China (1.171.000), Australia (1.037.000), Malaysia (880.000) dan India (829.000).

Tak hanya Singapura, Indonesia juga ternyata masih menjadi penyumbang utama kedua ke Malaysia tahun 2010 lalu. Data yang diperoleh dari tourism.gov.my, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Malaysia pada tahun 2010 mulai Januari-November berjumlah 2.247.938 orang, dan diperkirakan mencapai 2,5 juta -2,6 juta orang jika ditambah bulan Desember 2010. Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 2.405.360 orang.

Direktur Wita Tur, Rudiana menjelaskan, masyarakat cenderung suka berpelesir ke luar negeri karena memang informasi tempat-tempat wisata di negara lain lebih banyak ketimbang di negeri sendiri. “Ini cuma masalah eksposure. Apalagi promosi daerah wisata tersebut dan airlines dari negara yang bersangkutan sangat gencar,” ujarnya. Namun demikian, lanjut dia, informasi mengenai daerah wisata lokal kini semakin membaik. Di berbagai media, mulai banyak dibahas mengenai destinasi wisata. Mulai dari wisata alam hingga wisata kuliner. Hasilnya, minat masyarakat untuk berwisata ke dalam negeri pun semakin tinggi.

“Padahal, Indonesia itu lebih indah dari negara-negara lain. Itu sudah pasti. Kita punya lebih dari 500 etnis dan bahasa serta berbagai keunikan yang tidak ada di negara-negara lain. Hanya ada di Indonesia,” tegasnya. Karena itu, ia pun menganjurkan agar masyarakat pada musim liburan Tahun Baru nanti memilih Indonesia sebagai tempat melancong bersama keluarga.

Lanjutnya, hal yang menjadi kendala perkembangan wisata dalam negeri adalah keterbatasan akses dan sarana serta prasarana. Tak heran jika kemudian biaya untuk bersantai di dalam negeri justru lebih mahal ketimbang terbang dan berlibur ke luar negeri.

Entah dikarenakan karakteristik orang Indonesia yang lebih menyukai wisata belanja daripada wisata alam, namun fakta ini sangat ironis sekali dimana masyarakat Indonesia lebih menyukai berlibur ke negara tetangga dibandingkan berlibur di dalam negaranya sendiri.