Tags

Hari ini, tepat 7 bulan sejak aku pertama kali ditugaskan di IGD (Instalasi Gawat Darurat). Tulisan ini bisa di bilang sharing kepada teman-teman (Medis dan Non Medis), sekaligus ajang mengeluarkan unek-unek. Karena seperti judulnya “What an ER doctor won’t tell you”. Isi tulisan ini adalah apa yg berkecamuk di dalam pikiranku ketika sedang jaga IGD, namun tidak pernah saya katakan kepada pasien-pasien tercintaku di IGD. Kenapa? Mungkin karena terlalu cinta (#halah, apakah ini jg tergolong kepada cinta lokasi?).

Tidak seperti unit lain di RS, beban kerja dan jumlah pasien di IGD tidak bs di prediksi. Jumlah pasien yang banyak tidak sebanding dengan beban kerja yang banyak. Misalnya pada hari libur iedul fitri, pada saat puskesmas & banyak klinik yg tutup, jumlah pasien kami mencapai 30 orang lebih, namun tidak sedikitpun terasa berat karena rata-rata pasien yang datang adalah pasien dengan triase hijau (tidak gawat dan tidak darurat). Sebaliknya, aku pernah tidak tidur semalaman, padahal pasien yg ditangani hanya 2 orang.

Berbicara tentang IGD adalah berbicara soal team work/ kerjasama. Walaupun IGD tidak akan bs berjalan tanpa adanya dokter stand by 24 jam. But, I think I am not gonna make it wothout my team. Tim jaga IGD kami terdiri dr 2 perawat cepat-tanggap, 1 petugas pendaftaran, 1 petugas lab, dan 1 petugas radiologi yg stand by kapanpun diperlukan. Kami sering buka puasa dan sahur bersama di bulan puasa dan terkadang nge-bakso/ makan gorengan bersama di sore hari ketika pasien sedang sepi. Kebersamaan itu indah bukan?

Tetapi IGD yg tenang bs berubah seketika seperti pasar. Misalnya hari ini saat pasien “Ketoasidosis”, “Syok Sepsis”, “Hernia Incarcerata”, “CHF” datang hampir bersamaan. Kerjasama tim yg solid sangat diperlukan untuk tetap berada pada jalur. Saranku kepada seluruh dokter IGD, “Write down the instruction”. Peluang kesalahan sangat besar terjadi dalam suasana yg hectic. “Double check dosis obat injeksi yg akan diberikan oleh perawat kepada pasien.Selanjutnya aku punya beberapa pesan untuk teman2 non medis yg pernah berobat ke IGD. Jika belum aku tidak akan pernah mendoakan anda agar pernah berobat ke IGD.

ER treat patient based on emergency code not based on que line.Jika anda pernah berobat ke IGD, tetapi anda merasa berkali-kali terabaikan oleh pasien lain yang baru datang dan lebih dahulu ditangani. Jangan buru-buru marah dan membentak dokter IGD. Aku sarankan hal pertama yang harus anda lakukan adalah bersyukur. Bersyukur bahwa penyakit anda tidak separah pasien lain yg kami tangani terlebih dahulu. Dokter IGD menangani pasien berdasarkan urutan kegawatdaruratan bukan berdasarkan nomor antrian kedatangan. Dan kepada pasien Ureterolitiasis yang hari ini membentakku, kesalahanmu sudah ku maafkan🙂. Anda hanya kurang sabar menanti reaksi dari analgetik yg sudah diinjeksikan. Ketahuilah : “Pain may be the alarm but is not always an emergency case”. Kami dokter IGD bukan tidak berempati terhadap rasa sakit yang anda rasakan. Dokter IGD anda lebih tahu mana kasus emergency dan mana yang tidak. Dan ketahuilah, mungkin pada saat yang sama ada pasien tidak sadar yg tidak bs berteriak kesakitan yang lebih membutuhkan perhatian dokter
Never lie to your ER doctor.Seriously, aku selalu tak habis pikir kenapa banyak pasien yg berbohong kepada dokternya. Dan dari pengalaman, kebohongan paling sering dilakukan oleh ibu terhadap riwayat penyakit bayi/ anaknya. Seperti seorang ibu yang menyangkal mengurut perut anaknya penderita “ileus paralytic”, padahal dengan jelas ditemukan barang bukti sisa-sisa minyak urut yang masih menempel dan lengket pada tubuh anaknya. Atau ibu yang mengaku menyusui ASI eksklusif pada bayi 5 bulan dg “invaginasi”, dan setelah di desak baru mengaku telah memberi anaknya makan madu, bubur nasi, dan air rebusan kunyit. Beberapa dokter sepertiku mungkin hanya tersenyum dan tidak akan pernah mendebat anda. Karena menurut kami dokter IGD, waktu kami lebih berharga jika digunakan untuk menangani kegawat daruratan daripada berdebat dengan keluarga pasien. Saranku, katakan sejujurnya jika memang anak anda tidak diimunisasi, sudah mulai makan makanan keras, diberi terapi tradisional. Ketahuilah, kebohongan anda hanya akan menghambat upaya dokter untuk secepatnya menangani penyakit anak anda.Atau ketika orang tua anak diare dehidrasi berat mengaku anaknya baru mencret 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Seriously, kebohongan anda tidak ada gunanya. Dokter tidak kan tertipu semudah itu. Dia dpt tahu kalau diarenya sudah berhari-hari dari perutnya yang kembung akibat hipokalemi. Dan yang terpenting, keterangan dari anda mengenai berapa lama mencret dan berapa banyak cairan yang keluar sangat kami butuhkan untuk memperkirakan jumlah cairan tubuh yang akan kami gantikan.
Tell briefly your disease background.Jika memungkin ceritakan dengan singkat riwayat penyakit penting anda. Jangan pernah bilang “Semua catatan medis saya ada di rekam medis dok”. Rumah Sakit Indonesia tidak secanggih RS di luar negri yg memakai rekam medis elektronik. Butuh waktu untuk mengambil file rekam medis ke ruang penyimpanan. Anamnesis dalam kasus emergency dilakukan pada pengamatan skunder. Yang perlu anda ketahui, pertanyaan-pertanyaan dokter IGD tidak akan memperlambat pertolongan pertama untuk penyelamatan nyawa yang kami lakukan. Pertolongan pertama untuk penyelamatan nyawa di IGD dilakukan pada pengamatan pertama. Jika dokter IGD sudah mulai mengajukan pertanyaan, berarti fase tindakan penyelamatan nyawa sudah kami lakukan.Riwayat yang sering lupa disebutkan pasien adalah riwayat dispepsia/ sakit magh. Kami dokter IGD bermain dengan berbagai macam analgetik/ penghilang rasa sakit yang dapat membahayakan lambung anda. Jika anda menceritakan riwayat ini kepada dokter IGD, kami dapat memilihkan analgetik yang sesuai/ memberikan obat pelindung lambung pada saat bersamaan.Kasus lain : “Apa bapak sedang konsumsi obat-obat tertentu? Tidak ada dok”…. Beberapa saat kemudian hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa ia menderita DM. “Apakah bapak menggunakan insulin? iya dok saya suntik 10 unit 3x/hari” (Well, Insulin is a medicine too)
Don’t say yes to every question. Hal yang paling tidak aku sukai di IGD adalah menganamnesis pasien yg sedang kesakitan. Karena menurut statistik pengalaman mereka akan menjawab ya untuk semua pertanyaan tertutup dan tidak menjawab untuk pertanyaan terbuka yang kita ajukan. Dialog ini sangat sering terjadi : “Apa yang dirasakan pak? Sakit perut dok/ Dari kapan dirasakan? #diam/ berapa hari terasa sakit pak, 1 hari, 3 hari yg lalu? ya/ sakitnya seperti apa pak? #diam/ sakitnya terus menerus atau hilang timbul? sakit terus dok/ mules, perih atau seperti ditusuk? #diam/ sakitnya hilang timbul? ya (padahal tadi bilangnya sakit terus)/ ada muntah? ya/ dari kapan muntahnya? sudah seminggu/ Loh tadi bapak bilang baru sakit perut 3 hari? seminggu yg lalu sudah sakit tp hilang timbul…. (Kebingunganku mungkin tanda bahwa skill komunikasiku harus lebih dikembangkan lg)
Your emergency doen’t necessaryly mean our emergency. Kasus ini paling sering terjadi pada pasien dengan “Hemoptoe/ batuk darah”. Seringku amati pasien di bawa berbondong-bondong dengan ambulans desa yang lokasinya jauh dari RS, diantar sanak kerabat hampir satu kampung. Beberapa terdengar berbisik-bisik soal guna-guna dan santet yang mungkin di derita pasien. Dan hampir sebagian besar keluarga pasien protes ketika dikatakan bahwa penyakitnya tidak emergency dan dapat di tangani di Puskesmas. Beberapa keluarga ada yang ngotot minta rontgen dada padahal sudah dijelaskan berkali-kali bahwa diagnosis penyakit mengarah kepada TBC yang dapat ditangani gratis di puskesmas dan di diagnosis dg pemeriksaan dahak, bukan rontgen.
Visitor not allowed in the ER.Hanya ada satu alasan kenapa tidak diperbolehkan banyak orang berkunjung ke IGD. Orang yang berkumpul banyak akan menghambat pergerakan dokter dan perawat IGD. Sementara pekerjaan kami menuntut gerak yang cepat dan tepat. Hal yang banyak terjadi adalah kebanyakan pengunjung datang ke IGD merasa perlu untuk menonton dan melihat kondisi pasien lain, bukan hanya keluarganya saja. Bayangkan jika diri anda yang berada pada posisi pasien yg sedang kesakitan/ mendapat pertolongan (Misal : di pasang selang kencing) dalam posisi yang di tontoni oleh banyak orang. Meskipun aku belum pernah jadi pasien IGD. Tapi aku yakin, tidak ada pasien yang ingin ditangani sambil ditontoni banyak orang.
What you expect from ER?Pasien2 dilematis sering ditemukan di IGD. Khususnya pasien2 dg indikasi masuk ICU tetapi tidak mau dirujuk masuk ke ICU dan berharap diobservasi di IGD. Setiap IGD punya batas waktu standar untuk observasi pasien max 6-8 jam, setelahnya harus diputuskan apakah akan masuk ruang perawatan, ICU, atau kontrol ke poliklnik.Pasien dilematis lain biasanya adalah anak-anak dengan luka robek yang menolak untuk di jahit. Dan anehnya ada beberapa orang tua yang takut anaknya kesakitan saat dijahit menolak tindakan medis. Pertanyaannya adalah apa gunanya anda membawa anak ke IGD, jika tidak ingin di jahit. Jika yang anda cari hanyalah Betadine dan kasa dapat, ini dapat anda di beli bebas di banyak apotik.
Don’t play drama in ERDrama ini biasa diperankan oleh gadis muda yang baru bertengkar dengan orang tuanya atau baru saja putus dengan pacarnya. Perlu anda tahu kami dokter dan perawat IGD sudah terlatih untuk mengetahui mana pasien yang tidak sadar dan mana yang pura-pura pingsan. Mana pasien yang kejang atau pura-pura kejang yang malah terlihat seperti sedang joged ala gangnam style.Atau gadis muda yang melakukan percobaan bunuh diri “tanggung”. Tanggung misalnya minum bayclin satu tutup botol kecil, minum minyak tanah satu teguk, mengiris pergelangan tangan dengan pisau silet. Apakah anda berfikir anda akan benar-benar bs mati dengan melakukan hal-hal tersebut? Pasien-pasien ini biasa datang diantar segerombolan keluarga dg wajah cemas. Yup, anda berhasil membuat keluarga anda cemas, tetapi anda hanya akan menambah penuh IGD.
Refferal notes is importantBeberapa orang pasien ada yang datang ke emergency setelah mendapat saran/ rujukan dari dokter umum di klinik tetapi mereka menyembunyikan surat rujukan sampai detik terakhir/ hingga dokter IGD menanyakannya. Mungkin anda melakukannya hanya untuk mengetahui apakah diagnosis dokter IGD sama dengan diagnosis dokter umum di klinik luar. Saranku, jangan pernah melakukan itu. Hal itu hanya akan memperlambat diagnosis dan penanganan kami kepada keluarga anda. Rujukan itu penting untuk mengetahui obat-obat apa yang telah diberikan kepada pasien dan mencegah obat yang sama diberikan berulang kali. Jika dokter di klinik lupa memberikannya, selalu tanyakan soal rujukan. It’s about the paper work for the doctor in clinic but it means a lot for us in the ER.
Don’t ask us about the payment fee.Pertanyaan ini menurutku lebih sussah untuk di jawab dibandingkan pertanyaan long case ujian stase penyakit dalam sewaktu coass. Aku paham untuk pasien yg tdk di cover asuransi/ jaminan kesehatan pertanyaan ini menjadi aspek penting untuk diperhatikan. Anda hanya bertanya kepada orang yang salah jika menanyakan ini kepada dokter/ perawat IGD. Di RS ada kasir dan petugas admission tempat anda memeperoleh informasi tersebut. Dan anda juga tidak bs menanyakan tarif RS Swasta di luar, karena tarif bisa RS sangat bervariasi. ICU di satu RS bs bertarif 3 jt/ malam, di RS lain bs bertarif 10 jt/ malam. Untuk kasus emergency jangan pernah menunda penanganan hanya untuk berembuk soal tarif yang akan di pilih. Salah satu pasien pernah berembuk terlalu lama untuk dirujukkan ke ICU salah satu RS dengan tarif 3 jt/ malam. Pihak keluarga masih berharap RS dg ICU yang lebih murah bs memiliki kamar kosong. Karena berembuk terlalu lama, ICU itu akhirnya terisi dan menyisakan RS dg ICU 10 jt/ malam. Padahal mereka berasal dari keluarga yang mampu, hal ini akan menyebabkan pertolongan pasien akan menjadi terlambat.
Never transport the unstable patient.Point terakhir ini mungkin aku khususkan kepada sejawat yang bertugas di perifer. Aku pernah bertugas di puskesmas daerah terpencil dan tahu persis rasanya bekerja dalam kondisi peralatan yang terbatas. Seperti tentara tanpa amunisi. Tetapi apakah ada gunanya mentrasnport pasien dengan tanda vital tidak stabil dan sampai ke IGD dengan diagnosis DOA “Death on Arrival”. Jangan khawatir jika di dalam surat rujukan pasien diare Tekanan darah 70/palpasi dan pada saat di IGD hasil tekanan darah terukur adalah 90/60. Saat itu ada salah seorang perawat junior yang berkomentar “Dokter ini ngga pandai menensi ya, kok berbeda” tetapi dokter di IGD akan berfikir sebaliknya dan menyambut surat rujukan itu dengan senyum lebar sambil berujar di dalam hati “Good job, dude! We are counting on you”.Atau ketika saya mendapat rujukan bayi sungsang dystocia dengan kepala masih berada di liang vagina. Mungkin akan lebih bermanfaat jika teman sejawat mencoba mengeluarkan bayi tersebut dengan segala upaya yang ada dibandingkan dengan merujuk ke RS yg sudah dapat dipastikan bayi sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
End of life care treatment. Sebenarnya aku masih penasaran bagaimana persoalan ini di pandang dari sisi etika kedokteran. Misalnya : Apakah perlu merujuk pasien stroke pendarahan yang sudah 4 hari tidak sadarkan diri di rumah ke IGD? atau Apakah perlu merujuk pasien cancer stadium 4 metastase yg sudah pulang paksa dan menolak tindakan kemoterapi & pengobatan medis ke IGD? Bagi kita para dokter rujukan hanya bermodalkan secarik kertas dan tanda tangan. Tetapi coba fikirkan apa yang perlu dipersiapkan keluarga untuk membawa pasien ke RS? Mulai dari transportasi, biaya, keluarga yang akan menjaga (biasanya perempuan), orang yang akan bertugas mengangkat pasien (biasanya laki-laki bertubuh tegap), bantal, selimut (sebagian besar rumah sakit umum tidak menyediakan selimut bagi pasien), kain panjang, termos air panas, gelas air (pasien seringkali di suruh minum obat tetapi gelasnya tidak ada di IGD, akhirnya penjual aqua depan RS yg untung besar), kadang-kadang sampai memboyong anak kecil yang di bawa karena tidak ada yang menjaga di rumah. -> berdasarkan hasil pengamatan terhadap buntelan yang ditenteng keluarga pasien. Apakah usaha yang mereka keluarkan sebanding dengan prognosis yang diharapkan dari kondisi pasien?Cukup dulu cerita dari IGD untuk hari ini,,, sambil menulis tulisan ini aku berfikir. Kami para dokter dan perawat IGD seharusnya berkomunikasi lebih banyak tentang hal ini kepada pasien dan keluarga pasien. But, We wish we have more time to have a chit chat in ER…

Best Regards
dr Rosa Syafitri